Tuesday, 14 October 2008

"SUFI" .................


Disebuah "Padepokan SUfi (red:PS)" terdapatlah murid yang sangat cerdas tetapi selalu penasaran terhadap hal-hal yang membuatnya lebih merasa berarti. 3 tahun ia berguru pada gurunya yang namanya seantero jagad pada masanya sangat terkenal. Namun yang dikenalnya bukan nama Aslinya tetapi nama gelarnya. Saking terkenalnya nama tersebut untuk menyebut namanya saja orang-orang terasa berat menyebutkan saking berwibawanya nama tersebut. Sebutlah sufi itu adalah "Sufi Gunung" karena memenag keberadaannya jauh dari kota dan berada di kaki gunung.




Rasa penasaran Murid yang bandel dan sekaligus pintar ini seolah-olah dia telah menyerap seluruh ilmu gurunya. Maklumlah usianya masih muda dan dia sangat menyukai tantangan dan sesuatu yang belum ia pelajari. Biasanya Untuk menghadap Sufi Gunung (biasa disingkat SG) diperlukan keberanian tersendiri karena SG akan bertanya banyak seputar ilmu yang murid-murid mereka telah pelajari. Namun murid yang bandel ini tetap saja penasaran dan mrasa itu mengalahkan rasa 'takutnya untuk bertemu sang guru.




Singkat cerita si Murid sudah berada di depan SG. "Saya menghadap untuk menanyakan sesuatu bukan untuk ditanya". Kata Muridnya Lukman .Mendengarkan perkataan tersebut dari seorang murid yang "lancang" SG balik bertanya. "tetap saja kamu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan saya seputar ilmu yang telah kamu pelajai di gunung ini" Maka satu persatu pertanyaan ditanyakan kepada Lukman dan semuanya di jawab dengan baik. Hingga tibalah giliran murid bertanya."Wahai sang guru ilmu apalagi yang lebih besar dari ilmu yang telah saya pelajari dari guruku tercinta Sufi Gunung". SG balik bertanya"mengapa kamu menanyakan hal tersebut dan apa yg hendak kamu cari?".Saya memnginginkan ilmu yang lebih yang telah saya cari. Maka SG menjawab pergilahkamu ke daerah kota Pondok Idaman (PI) disana kamu akan menemukannya.




Singkat kata Lukman setelah melewati hambatan naik turun, terik matahari dan hempasan angin malam. dan masuklah Lukman di kota PI. Namun yang dijumpainya adalah sebuah pemandangan yang sangat berbeda dari dugaan sebelumnya. Disana terlihat banyak Wanita Cantik yang mulus-mulus dengan beraneka macam perawakan, ada yang berkerudung dan menggunakan rokmini. Disamping wanita cantik dengan begitu seksi, bagunan-bangunan juga serba bagus-bagus mewah tidak seperti di gunung. Diruangan lain nampak makanan yang begitu lezat sehingga air liur si murid tak tertahankan. Belum habis pandangannya kini matanya melihat setumpuk berlian dan uang yang bergeletak begitu saja. Melihat itu semua si Murid kembali ke Gunung dan berguman....hmmm baru kali ini SG melakukan kesalahan menyuruh saya datang ke tempat yang salah. Akhirnya setelah tiba di PS si Murid menyampaikan temuannya. "Sepertinya saya tidakmenemukan sesuatu disana, sepertinya SG salah menyampaikan alamat" guman sang murid. Mendengar kata muridnya SG kembali bertanya apa yang kamu lihat tidak perlu kamu sampaikan, cukup kamu sampaikan dengan siapa kamu berbicara dan bertemu orang disana. "Dengan siapa kamu bertemu disana......" kata SG. "Saya bertemu dengan seorang laki-laki sepertinya dia pemilik PI itu bajunya kaos oblong, memakai sandal dan begitu santai terlihat" kata muridnya. "Oh itu lah orang yang memiliki ilmu besar meskipun terlihat sangat sederhana"kata SG. "Orang itulah yang saya Pangiggil SUFI BESAR (SB)"kata SG.




Mendengar perkataan SG Lukman semakin Pusing dan balik Bertanya"Apa yang menyebabkan SB merupakan ilmu yang tinggi dibandingkan ilmu yang saya pelajari?" Ungkap murid. SG balik bertanya " Apa yang kamu rasakan pada saat kamu disana?". saya merasakan sesuatu yang berbeda.......sang guru.., Jantung saya rasanya berdetak kencang ketika saya melihat wanita yang begitu cantik dan mulus berada disamping saya. rasa-rasanya tangan ini ingin meraba kulit yang begitu ranum dan mulus disertai dengan kecantikan yang luar biasa" kata lukman. "Apa lagi yang engkau rasakan wahai muridku"kata SG. "Saya merasakan keinginan yang besar untuk memiliki bangunan mewah itu dan mengambil uang dan berlian yang berada disana" kata lukman. SG bertanya "Berapa lama kamu disana?".


"30 menit jawab" Lukman. bukan sebuah waktu yang lama...




Akhirnya SG menjelaskan bahwa SB itu adalah sufi yang lebih tinggi dari SG karena SB memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang diluar aturannya, namun dari sekian lama dia disana SB tidak bergeming samasekali dengan godaan-godaan itu. Seandainya saya sendiripun disana mungkin saya tidak akan tahan akan perempuan yang cantik, harta yang banyak. "Kamu sendiri telah merasakannyameski hanya 30 menit" ungkap SG.




Karena itu belajarlah dari SB menegenai kehidupan lain, kerendahan hati, konsistensi, komitmen dan bagaimana berusaha secara jujur untuk memperoleh keuntungan dari dia kamu akan melihat banyak dunia . SB ini merupakan contoh yang patut kita serap ilmunya guna masa depan kamu "Ungkap SG.






LB.Tadjo

Monday, 18 August 2008

Heran.....................




Aku Heran, Aku Heran........... (potongan lagu perahu retak Frangky S).

Pernah Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) datang terlambat pada sholat Idul Fitri. Biasanya beliau selalu datang lebih awal dari sahabat-sahabatnya. Saat ditanya oleh sahabat mengapa Rasulullah datang terlambat beliau menceritakan bahwa dia datang terlambat karena ditengah jalan dia bertemu dengan seorang anak bersedih di hari raya Idul Fitri.

Rasulullah mendapati anak tersebut sedang bermuram durja sementara anak-anak seusianya sangat bersuka cita menyambut hari raya Umat Islam tersebut. Saat ditanya oleh Rasulullah kenapa ananda bersedih? Oleh anak tersebut dijawab "saya suda tidak emiliki orang tua , berbeda dengan mereka". "kemana Orang tuamu"? tanya Rasulullah kembali. Jawab anak tersebut, "Bapakku telah meninggal dunia karena membela agama Islam dan Ibuku telah menikah lagi dan saya diterlantarkan". Mendengar jawaban tersebut Rasulullah seketika itu juga mengangkat anak tersebut sebagai anak-nya dan berbagialah anak tersebut karena telah mempunyai keluarga.


Mungkin sebagian dari kita akan beranggapan bahwa Idul fitri sedemikian mulia oleh Rasulullah sempat terhenti langkahnya karena melihat anak bermuram durja. Sebagaian diantara kita mungkin akan mengatakan itukan Nabi bukan manusia biasa. Jadi sangat wajar jika ia melakukan hal tersebut.

Namun yang menjadi catatan buat kita semua berapa banyak anak-anak generasi penerus kita ( red: Indonesia) yang hidupnya bukan saja bermuram durja tetapi bermuram masam, karena untuk makan saja dalam satu hari sangat susah. Jangankan untuk memiliki mainan layaknya anak-anak yang mampu, untuk membeli alas kaki saja rasanya tidak terlintas dibenaknya.

Namun dilain sisi kebanyakan diantara kita berklebihan. Perut anak-anak dari golongan mampu bukan lagi hanya sekedar kenyang, tetapi sampai kepada kadar nutrisi dan rasa. meskipun kandungan nutrisinya besar tapi kalau tidak sesuai dengan rasa, makanan tersebut bisa terbuang cuma-cuma.

hmmmm.
Dua kutub tersebut semakin terlihat ditengah-tengah kita. Nggak perlu jauh-jauh mungkin salah satu diantara mereka yang tidak beruntung itu adalah tetangga-tetangga kita, mungkin juga keluarga kita.
Aneh memang, Orang yang berkelebihan terlihat begitu suci dengan muka yang bercahaya ( karena jarang kena panas terik matahari), memiliki mesjid/musallah/ruang sembahyang pribadi dirumah masing-masing, rajin mengikuti pengajian bahkan naik haji hingga tak terbilang.

Aneh memang, Indonesia mayoritas "muslim" masih menjadikan korupsi sebaga hal biasa, menterlantarkan anak yatim, menterlantarkan anak miskin. Jelas di hampir semua agama "peniadaan/perlupanan" anak yatim dan fakir adalah sebuah "penghianatan atas agama" ternyata masi terjadi dimana-mana.

Lantas apa yang bisa kita lakukan??????????, Mulailah dari niat, Mulailah dari hal-hal yang kecil, diri sendiri,keluarga, tetangga dan seterusnya.........untuk merubah bangsa ini, untuk merubah cara kita berbangsa & "beragama" ..........

LB.Tadjo

Wednesday, 30 July 2008

GOLPUT or NYOBLOS




Lukman Budiman,


Pemilu sudah semakin dekat. Dalam web kpu tertulis besar disisi kanan atas kurang dari setahun. Tentunya waktu tersebut bukan lagi waktu yang panjang buat partai politik untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Para caleg telah "bergentayangan" hingga kepelosok dusun , mungkin pihak pemerintah daerah ataupun kepala desa tidak mampu menjangkau dusun tersebut.





Pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah yang dilakukan oleh "caleg" tersebut mendapat respon yang positif oleh rakyat????. Kini kekuatan ada ditangan rakyat. Pilkada-pilkada dibeberapa daerah telah membuktikan bagaimana orang-orang yang "benci"masyarakat jauh dari keterpilihan. Ini adalah langkah maju bagi demokrasi kita. Masyarakat yang selalu dipandang sebelah mata telah menunjukkan eksistensinya bahwa hakikat kekuasaan ada ditangan mereka.





Munculnya alternatif pemimpin baru baik yang mencalonkan diri sebagai Caleg DPR atau menjadi calon Presiden adalah sebuah langkah maju dalam mempercepat proses regenerasi yang sempat terhenti dimasa pemerintahan Soeharto. Namun disisi lain "kemarahan "akan sebuah tindakan politik yang telah diperlihatkan oleh Elit yang diwakilkan pada Partai memberikan pandangan dan penilaian tersendiri buat masyarakat kita. Kecendrungan untuk tidak peduli menjadi alternatif buat mereka yang sudah jenuh akan janji dan program yang realisasinya tidak dirasakan banyak oleh warga.





Kini pertanyaannya apakan kita akan memilihuntuk diam dan tidak melakukan apa-apa ataukan tetap menggunakan hak pilih kita guna mencari alternatif yang masa depannya belum tentu lebih baik???? Itu tinggal pilihan kita semua mau seperti apa peran yang akan kita ambil.





Bagaimana pendapat anda silahkan tuangkan dalam tulisan ini.........................................




Tuesday, 10 June 2008

POLITIK BALIGHO & NARSISTIS POLITIK

Saya telah mengunjungi berbagai pelosok tanah air untuk melihat langsung proses pelaksanaan PILKADA. Dalam kunjungan tersebut warga terihat begitu sumringah menyambut pesta demokrasi ditingkat local. Pilkada membuat saya berpikir panjang tentang masa depan bangsa ini yang menuju ke arah lebih baik. Setiap orang mempunyai hak untuk menilai pemimpin berhasil atau tidak, layak atau tidak menjadi pemimpin di daerahnya. Dengan Kata lain Kedaulatan ada ditangan Rakyat. Kedaulatan rakyat yang secara langsung membuka mata kita betapa kekuasaan itu sifatnya sementara dan berlangsung sangat dinamis. Hal ini mungkin membuka peluang yang sama bagi setiap warga untuk mencalonkan dan dicalonkan sebagai pemimpin di daerahnya. Boleh hari ini si A menjadi harapan baru bagi masyarakat tiba-tiba berubah menjadi si B sebagai harapan baru..

Namun semakin hari setelah Pilkada hampir terselenggara di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia memasuki tahun 2009, geliat Pilkada terasa menurun. Antuisme media dalam melakukan peliputan hanya pada Pilkada yangdinilai strategis dan mewakili kepentingan yang luas. Ataupun jika diliput maka lebih cenderung mencari isu-isu seksi seputar sengketa dan kisruh Pilkada. Kondsi seperti ini juga mungkin dirasakan oleh warga yang semakin lama semakin menganggap Pilkada itu adalah sebuah proses yang biasa. Perkembangan seperti ini memberikan dampak positif karena ketegangan antar warga akan cenderung menurun, namun disisi yang lain kekuatiran akan menurunnya minat warga dalam menentukan pilihan juga semakin menurun. Fenomena yang terjadi sekarang ini banyak warga yang acuh tak acuh terhadap pelaksanaan demokrasi tingkat Pilkada tersebut. Memang tidak terdapat data yang menyembutkan angkanya. Namun rata-rata dari tingkat Turn Out warga mencapai 60% (angka yang cukup bagus dibandingkan dengan Pemilihan Lokal diberbagai Negara). Namun jika dicermati dari semangatnya cenderung antusiasme masyarakat menurun. Saya mendatangi Pilkada yang sejak pertama yaitu daerah Kutai Kartanegara dan Kota Cilegon terlihat masyarakat seperti menyambut pesta demokrasi nasional, pemilu.. Warga begitu sumringah menyambut pesta tersebut. Halaman media massa pun sangat banyak mewarnai Pilkada di awal tahun 2005. Namun semakin lama semakin membuat daerah lainnya yang akan menyambut pilkada khususnya berakhir ditahun 2008 dan 2009 nyaris tak terdengar (kecuali fenomena JABAR). Yach mungkin ini yang dikatakan “panas-panas tai ayam”


POLITIK “BALIGHO”
Pilkada diawal-awal pada tahun 2005 dulu saya mencermati daerah-daerah yang sedang pmelaksanakan Pilkada proses pengenalan calon kepada warga banyak dilakukan dengan menggunakan spsnduk, leaflet dan media-media lainnya. Hanya terdapat beberapa gambar pasangan calon dyang tersebar didaerah yang melaksanakan Pilkada. Bandingkan dengan Pilkada yang dilaksanakan pada tahun 2007-2008 ini. Media promosi (media printing) yang digunakan jauh lebih beranekaragam dengan kualitas yang jauh lebih baik. Spanduk, Baligho dan media lainnya sepertinya menjadi satu rangkaian dari sebuah pesta demokrasi ditingkat lokal. Jadi tidak mengherankan tumbuhnya percetakan-percetakan dengan skala besar ditingkat lokal. Bahkan untuk memenangkan Pilkada di beberapa daerah tidak tanggung-tanggung beberapa partai memiliki Digital Printing tersendiri. Dipandang positif jika kita menggunakan kacamata pertumbuhan dan ketenagakerjaan. Panen limatahunan dirasakan oleh sektor “printing” . Bermunculannya lembaga-lembaga survey yang mengatasnamakan konsultan politik juga memberikan kontribusi positif terhadap menggunaan media “printing” sebagai media sosialisasi.


Tidak heran, baik incumbent maupun calon pemimpin daerah lainnya berusaha mengambil perhatian warga dengan berlomba-lomba mencetak dan memasang media promosi “printing”. Coba kita cermati, hampir disetiap sudut kota/tempat akan terlihat wajah-wajah yang beberapa tidak kita kenal sebelumnya, namun tiba-tiba dekat dengan kita karena sehari-hari harus berpapasan dengan mata kita. Mungkin saja jika orangnya berdiri disamping kita tidak mengenalinya karena foto yang di”iklankan” begitu sempurna dibandingkan dengan aslinya. Pengalaman saya di salah satu kabupaten di Kalteng, seorang bupati yang hendak mencalonkan diri kembali dalam Pilkada tidak saya kenali pada saat bertatap muka langsung. Jika tidak dikenalkan oleh salah satu rekan saya maka mungkin sampai hari ini saya tidak mengenalnya. Dalam benak saya, akan bertemu dengan sosok bupati yang sama atau tidak jauh berbeda dengan foto yang dipajang dihampir sudut kota. Mungkin ini kata yang cocok diungkapkan “Antara Harapan dan Kenyataan jauh berbeda” hmmmmm Seolah tidak tidak mau kalah dengan aktor dan aktris di televisi. Untuk meningkatkan popularitasnya tidak cukup dengan memasang Baligho di pusat-pusat kota tetapi media-media printing ini juga memasuki desa-desa (sama seperti ABRI masuk desa-dulu). Bahkan lebih progresifnya tempat-tempat yang tadinya secara nalar sulit dijangkau namun realitanya gambar-gambar ini sudah terpasang dengan kokoh baik dibawah kolong jembatan, tepi jurang, pinggir sungai bahkan terkadang terlihat diantara dua pohon. Untuk media printing yang lebih kecil mempunyai daya pasang yang saya sebut “Available any where” Poster ukuran kecil bias dijumpai di kolong jembatan, puncak-puncak pohon bahkan di “Helicopter” (red: WC Cemplung) . Jadi orang melaksanakan hajat pun “dipaksa” untuk memilih calon tertentu dengan mencoba mempengaruhi pikirin memalalui gambar tadi. Mungkin ini hanya terjadi di Indonesia.


Sama seperti saat saya melakukan perjalanan keliling Jawa Barat dengan melintasi beberapa daerah yang sarat dengan ketinggian dan jalan berkelok. Ditengah gelap malam dan rimbunnya pepohonan nyaris tidak terdengar aktivitas manusia. Yang ada hanya alunan musik dari kendaraan yang kami tumpangi. Ditengah kesunyian tersebut ternyata kami masih mendapatkan senyum dari banyaknya baligho yang terpasang di pinggir jalan. Nampak wajah-wajah yang terdapat pada Baligho tersebut mencoba melakukan komunikasi degan menebarkan senyum persahabatan. “yach lumayan dari pada di senyumin macan” gumanku ditengah hutan. Keberadaan baligho yang banyak ini cocok Digambarkan dalam bait lagu …. Dari kota hingga ke desa…….Dari Laut hingga ke Gunung…………..(menggunakan nada salah satu produk mie instant) Wajah senyum ketenangan, aura kepemimpinan, semangat baru, pancaran ketulusan berusaha divisualisasikan melalui gambar-gambar tersebut,. Tak heran kemudian kemenangan sang calon pun banyak ditentukan oleh kualitas visulisasi calon pemimpin. Tak mau kalah dengan gambar-gambar calon, orang yang memasang baligho memiliki “militansi” yang luar biasa. Meski dengan berbekal kelengkapan seadanya mereka akan memasang baliho/media gambar tersebut ditempat yang telah ditentukan. Tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri apalagi orang lain mereka begitu asyik memsangkan gambar-gambar tersebut. Salah-salah jika seseorang mengganngu konsentrasi dengan menegur atau memberikan bunyi klakson bisa diamuk dan dimaki-maki oleh mereka.


NARSISTIS POLITIK
Fenomena baligho ini bukan hanya menjelang Pilkada, namun sesudah Pilkada dengan terpilihnya kepala daerah juga masi terjadi.Meski mengantongi suara yang paling banyak diantara calon lain kepala daerah terpilih juga belum terpuaskan hasrat mengkampanyekan dirinya. Kegiatan sosialisasi yang dibiayai atas pendanaan Pemerintah Daerah digunakan untuk kepentingan pengenalan dirinya. Banyak kegiatan sosilisasi yang dibiayai APBD cenderung menampilkan sosok kepala daerah. Dibandingkan subtansi yang ingin disampaikan, media sosialisasi tersebut jauh dari subtansi sesungguhnya. Beberapa kabupaten/kota (Ciamis,Kuningan…etc)di Jawa Barat misalnya, menggunakan dana BNK dalam rangka sosilisasi Narkoba. Namun media sosialisasi yang ditampilkan lebih banyak menampilkan sosok tokoh dibandingkan pesan yang ingin disampaikan. Tak heran dari kejauhan sudah terlihat wajah-wajah tokoh namun kita belum bisa melihat pesan apa yang coba ingin disampaikan. Tulisan “Awas Narkoba” cenderung kalah dan terlihat hanya sebagai pelengkap.


Paling sering terlihat, kebetulan saya setiap hari melewati Margonda Raya Depok, persis dipertigaan sebelum Plaza Depok (Jakarta-Depok) terlihat baliho ukuran raksasa yang mencoba menampilkan semangat baru dalam rangka 100 tahun kebangkitan Bangsa. Lagi-lagi yang mendominasi Baligo terebut adalah wajah-wajah yang tidak sesuai dengan tema. Disana ditampilkan wajah Walikota lengkap dengan Muspidanya. Tulisan subtansi kebangkitan bangsa sangat Minim. Bahkan sama sekali tidak memperlihatkan mozaik-mozaik warga dalam mengisi kebangkitan tersebut. Jadi baligho yang ukurannya kira-kira 4x8 hanya berisikan gambar MUSPIDA. Sangat miris memang uang yang seharusnya efektif untuk menumbuhkan rasa juang dalam hidup (gamabaran mozaik prestasi dan kerja keras) hanya diisi wajah-wajah birokrat yang berusaha memperkenalkan diri melalui media tersebut.


Bukan hanya di Depok, Makassar,Medan, Banjarmasin dan seluruh daerah di Indonesia bahkan di Jakarta sekalipun. Kita masih mengingat Pilkada Jakarta, salah seorang calon gubernur menggunakan media sosialisasi/printing untuk mengkampanyekan diri melalui program BNP tentang bahaya Narkoba. Sebenarnya apapun itu, terlepas salah benarnya menurut hUkum, namun secara etis tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin yang mengerti betul tujuan media sosilisasi itu dibuat. Untuk menunbuhkan rasa sayang warga kepada pemimpinnya tidak dengan menekankan pada wajah senyum ramah tetapi melalui sebuah prestasi yang mana warga akan mengingatnya sebagai sebuah usaha kerja keras. Masyarakat kita tidak membutuhkan senyuman dari seorang pemimpin terlebih lagi jika itu hanya sebuah gambar. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang narsistis. Masyarakat hanya menginginkan bukti bahwa hari ini lebih baik dari kemarin dan membuka jalan hari esok lebih baik dari hari ini. Alangkah eloknya jika kita menampilkan wajah-wajah senyuman dari masyarakat kita, ketimbang menampilkan wajah pemimpin tersenyum di Baligo tetapi Masyarakat kita dibawah mengkerut dahi, menjerit bahkan menangis.
Lukman Budiman