

Aku Heran, Aku Heran........... (potongan lagu perahu retak Frangky S).
Pernah Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) datang terlambat pada sholat Idul Fitri. Biasanya beliau selalu datang lebih awal dari sahabat-sahabatnya. Saat ditanya oleh sahabat mengapa Rasulullah datang terlambat beliau menceritakan bahwa dia datang terlambat karena ditengah jalan dia bertemu dengan seorang anak bersedih di hari raya Idul Fitri.
Rasulullah mendapati anak tersebut sedang bermuram durja sementara anak-anak seusianya sangat bersuka cita menyambut hari raya Umat Islam tersebut. Saat ditanya oleh Rasulullah kenapa ananda bersedih? Oleh anak tersebut dijawab "saya suda tidak emiliki orang tua , berbeda dengan mereka". "kemana Orang tuamu"? tanya Rasulullah kembali. Jawab anak tersebut, "Bapakku telah meninggal dunia karena membela agama Islam dan Ibuku telah menikah lagi dan saya diterlantarkan". Mendengar jawaban tersebut Rasulullah seketika itu juga mengangkat anak tersebut sebagai anak-nya dan berbagialah anak tersebut karena telah mempunyai keluarga.
Mungkin sebagian dari kita akan beranggapan bahwa Idul fitri sedemikian mulia oleh Rasulullah sempat terhenti langkahnya karena melihat anak bermuram durja. Sebagaian diantara kita mungkin akan mengatakan itukan Nabi bukan manusia biasa. Jadi sangat wajar jika ia melakukan hal tersebut.
Namun yang menjadi catatan buat kita semua berapa banyak anak-anak generasi penerus kita ( red: Indonesia) yang hidupnya bukan saja bermuram durja tetapi bermuram masam, karena untuk makan saja dalam satu hari sangat susah. Jangankan untuk memiliki mainan layaknya anak-anak yang mampu, untuk membeli alas kaki saja rasanya tidak terlintas dibenaknya.
Namun dilain sisi kebanyakan diantara kita berklebihan. Perut anak-anak dari golongan mampu bukan lagi hanya sekedar kenyang, tetapi sampai kepada kadar nutrisi dan rasa. meskipun kandungan nutrisinya besar tapi kalau tidak sesuai dengan rasa, makanan tersebut bisa terbuang cuma-cuma.
hmmmm.
Dua kutub tersebut semakin terlihat ditengah-tengah kita. Nggak perlu jauh-jauh mungkin salah satu diantara mereka yang tidak beruntung itu adalah tetangga-tetangga kita, mungkin juga keluarga kita.
Aneh memang, Orang yang berkelebihan terlihat begitu suci dengan muka yang bercahaya ( karena jarang kena panas terik matahari), memiliki mesjid/musallah/ruang sembahyang pribadi dirumah masing-masing, rajin mengikuti pengajian bahkan naik haji hingga tak terbilang.
Aneh memang, Indonesia mayoritas "muslim" masih menjadikan korupsi sebaga hal biasa, menterlantarkan anak yatim, menterlantarkan anak miskin. Jelas di hampir semua agama "peniadaan/perlupanan" anak yatim dan fakir adalah sebuah "penghianatan atas agama" ternyata masi terjadi dimana-mana.
Lantas apa yang bisa kita lakukan??????????, Mulailah dari niat, Mulailah dari hal-hal yang kecil, diri sendiri,keluarga, tetangga dan seterusnya.........untuk merubah bangsa ini, untuk merubah cara kita berbangsa & "beragama" ..........
LB.Tadjo
Pernah Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) datang terlambat pada sholat Idul Fitri. Biasanya beliau selalu datang lebih awal dari sahabat-sahabatnya. Saat ditanya oleh sahabat mengapa Rasulullah datang terlambat beliau menceritakan bahwa dia datang terlambat karena ditengah jalan dia bertemu dengan seorang anak bersedih di hari raya Idul Fitri.
Rasulullah mendapati anak tersebut sedang bermuram durja sementara anak-anak seusianya sangat bersuka cita menyambut hari raya Umat Islam tersebut. Saat ditanya oleh Rasulullah kenapa ananda bersedih? Oleh anak tersebut dijawab "saya suda tidak emiliki orang tua , berbeda dengan mereka". "kemana Orang tuamu"? tanya Rasulullah kembali. Jawab anak tersebut, "Bapakku telah meninggal dunia karena membela agama Islam dan Ibuku telah menikah lagi dan saya diterlantarkan". Mendengar jawaban tersebut Rasulullah seketika itu juga mengangkat anak tersebut sebagai anak-nya dan berbagialah anak tersebut karena telah mempunyai keluarga.
Mungkin sebagian dari kita akan beranggapan bahwa Idul fitri sedemikian mulia oleh Rasulullah sempat terhenti langkahnya karena melihat anak bermuram durja. Sebagaian diantara kita mungkin akan mengatakan itukan Nabi bukan manusia biasa. Jadi sangat wajar jika ia melakukan hal tersebut.
Namun yang menjadi catatan buat kita semua berapa banyak anak-anak generasi penerus kita ( red: Indonesia) yang hidupnya bukan saja bermuram durja tetapi bermuram masam, karena untuk makan saja dalam satu hari sangat susah. Jangankan untuk memiliki mainan layaknya anak-anak yang mampu, untuk membeli alas kaki saja rasanya tidak terlintas dibenaknya.
Namun dilain sisi kebanyakan diantara kita berklebihan. Perut anak-anak dari golongan mampu bukan lagi hanya sekedar kenyang, tetapi sampai kepada kadar nutrisi dan rasa. meskipun kandungan nutrisinya besar tapi kalau tidak sesuai dengan rasa, makanan tersebut bisa terbuang cuma-cuma.
hmmmm.
Dua kutub tersebut semakin terlihat ditengah-tengah kita. Nggak perlu jauh-jauh mungkin salah satu diantara mereka yang tidak beruntung itu adalah tetangga-tetangga kita, mungkin juga keluarga kita.
Aneh memang, Orang yang berkelebihan terlihat begitu suci dengan muka yang bercahaya ( karena jarang kena panas terik matahari), memiliki mesjid/musallah/ruang sembahyang pribadi dirumah masing-masing, rajin mengikuti pengajian bahkan naik haji hingga tak terbilang.
Aneh memang, Indonesia mayoritas "muslim" masih menjadikan korupsi sebaga hal biasa, menterlantarkan anak yatim, menterlantarkan anak miskin. Jelas di hampir semua agama "peniadaan/perlupanan" anak yatim dan fakir adalah sebuah "penghianatan atas agama" ternyata masi terjadi dimana-mana.
Lantas apa yang bisa kita lakukan??????????, Mulailah dari niat, Mulailah dari hal-hal yang kecil, diri sendiri,keluarga, tetangga dan seterusnya.........untuk merubah bangsa ini, untuk merubah cara kita berbangsa & "beragama" ..........
LB.Tadjo

No comments:
Post a Comment