Tuesday, 10 June 2008

POLITIK BALIGHO & NARSISTIS POLITIK

Saya telah mengunjungi berbagai pelosok tanah air untuk melihat langsung proses pelaksanaan PILKADA. Dalam kunjungan tersebut warga terihat begitu sumringah menyambut pesta demokrasi ditingkat local. Pilkada membuat saya berpikir panjang tentang masa depan bangsa ini yang menuju ke arah lebih baik. Setiap orang mempunyai hak untuk menilai pemimpin berhasil atau tidak, layak atau tidak menjadi pemimpin di daerahnya. Dengan Kata lain Kedaulatan ada ditangan Rakyat. Kedaulatan rakyat yang secara langsung membuka mata kita betapa kekuasaan itu sifatnya sementara dan berlangsung sangat dinamis. Hal ini mungkin membuka peluang yang sama bagi setiap warga untuk mencalonkan dan dicalonkan sebagai pemimpin di daerahnya. Boleh hari ini si A menjadi harapan baru bagi masyarakat tiba-tiba berubah menjadi si B sebagai harapan baru..

Namun semakin hari setelah Pilkada hampir terselenggara di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia memasuki tahun 2009, geliat Pilkada terasa menurun. Antuisme media dalam melakukan peliputan hanya pada Pilkada yangdinilai strategis dan mewakili kepentingan yang luas. Ataupun jika diliput maka lebih cenderung mencari isu-isu seksi seputar sengketa dan kisruh Pilkada. Kondsi seperti ini juga mungkin dirasakan oleh warga yang semakin lama semakin menganggap Pilkada itu adalah sebuah proses yang biasa. Perkembangan seperti ini memberikan dampak positif karena ketegangan antar warga akan cenderung menurun, namun disisi yang lain kekuatiran akan menurunnya minat warga dalam menentukan pilihan juga semakin menurun. Fenomena yang terjadi sekarang ini banyak warga yang acuh tak acuh terhadap pelaksanaan demokrasi tingkat Pilkada tersebut. Memang tidak terdapat data yang menyembutkan angkanya. Namun rata-rata dari tingkat Turn Out warga mencapai 60% (angka yang cukup bagus dibandingkan dengan Pemilihan Lokal diberbagai Negara). Namun jika dicermati dari semangatnya cenderung antusiasme masyarakat menurun. Saya mendatangi Pilkada yang sejak pertama yaitu daerah Kutai Kartanegara dan Kota Cilegon terlihat masyarakat seperti menyambut pesta demokrasi nasional, pemilu.. Warga begitu sumringah menyambut pesta tersebut. Halaman media massa pun sangat banyak mewarnai Pilkada di awal tahun 2005. Namun semakin lama semakin membuat daerah lainnya yang akan menyambut pilkada khususnya berakhir ditahun 2008 dan 2009 nyaris tak terdengar (kecuali fenomena JABAR). Yach mungkin ini yang dikatakan “panas-panas tai ayam”


POLITIK “BALIGHO”
Pilkada diawal-awal pada tahun 2005 dulu saya mencermati daerah-daerah yang sedang pmelaksanakan Pilkada proses pengenalan calon kepada warga banyak dilakukan dengan menggunakan spsnduk, leaflet dan media-media lainnya. Hanya terdapat beberapa gambar pasangan calon dyang tersebar didaerah yang melaksanakan Pilkada. Bandingkan dengan Pilkada yang dilaksanakan pada tahun 2007-2008 ini. Media promosi (media printing) yang digunakan jauh lebih beranekaragam dengan kualitas yang jauh lebih baik. Spanduk, Baligho dan media lainnya sepertinya menjadi satu rangkaian dari sebuah pesta demokrasi ditingkat lokal. Jadi tidak mengherankan tumbuhnya percetakan-percetakan dengan skala besar ditingkat lokal. Bahkan untuk memenangkan Pilkada di beberapa daerah tidak tanggung-tanggung beberapa partai memiliki Digital Printing tersendiri. Dipandang positif jika kita menggunakan kacamata pertumbuhan dan ketenagakerjaan. Panen limatahunan dirasakan oleh sektor “printing” . Bermunculannya lembaga-lembaga survey yang mengatasnamakan konsultan politik juga memberikan kontribusi positif terhadap menggunaan media “printing” sebagai media sosialisasi.


Tidak heran, baik incumbent maupun calon pemimpin daerah lainnya berusaha mengambil perhatian warga dengan berlomba-lomba mencetak dan memasang media promosi “printing”. Coba kita cermati, hampir disetiap sudut kota/tempat akan terlihat wajah-wajah yang beberapa tidak kita kenal sebelumnya, namun tiba-tiba dekat dengan kita karena sehari-hari harus berpapasan dengan mata kita. Mungkin saja jika orangnya berdiri disamping kita tidak mengenalinya karena foto yang di”iklankan” begitu sempurna dibandingkan dengan aslinya. Pengalaman saya di salah satu kabupaten di Kalteng, seorang bupati yang hendak mencalonkan diri kembali dalam Pilkada tidak saya kenali pada saat bertatap muka langsung. Jika tidak dikenalkan oleh salah satu rekan saya maka mungkin sampai hari ini saya tidak mengenalnya. Dalam benak saya, akan bertemu dengan sosok bupati yang sama atau tidak jauh berbeda dengan foto yang dipajang dihampir sudut kota. Mungkin ini kata yang cocok diungkapkan “Antara Harapan dan Kenyataan jauh berbeda” hmmmmm Seolah tidak tidak mau kalah dengan aktor dan aktris di televisi. Untuk meningkatkan popularitasnya tidak cukup dengan memasang Baligho di pusat-pusat kota tetapi media-media printing ini juga memasuki desa-desa (sama seperti ABRI masuk desa-dulu). Bahkan lebih progresifnya tempat-tempat yang tadinya secara nalar sulit dijangkau namun realitanya gambar-gambar ini sudah terpasang dengan kokoh baik dibawah kolong jembatan, tepi jurang, pinggir sungai bahkan terkadang terlihat diantara dua pohon. Untuk media printing yang lebih kecil mempunyai daya pasang yang saya sebut “Available any where” Poster ukuran kecil bias dijumpai di kolong jembatan, puncak-puncak pohon bahkan di “Helicopter” (red: WC Cemplung) . Jadi orang melaksanakan hajat pun “dipaksa” untuk memilih calon tertentu dengan mencoba mempengaruhi pikirin memalalui gambar tadi. Mungkin ini hanya terjadi di Indonesia.


Sama seperti saat saya melakukan perjalanan keliling Jawa Barat dengan melintasi beberapa daerah yang sarat dengan ketinggian dan jalan berkelok. Ditengah gelap malam dan rimbunnya pepohonan nyaris tidak terdengar aktivitas manusia. Yang ada hanya alunan musik dari kendaraan yang kami tumpangi. Ditengah kesunyian tersebut ternyata kami masih mendapatkan senyum dari banyaknya baligho yang terpasang di pinggir jalan. Nampak wajah-wajah yang terdapat pada Baligho tersebut mencoba melakukan komunikasi degan menebarkan senyum persahabatan. “yach lumayan dari pada di senyumin macan” gumanku ditengah hutan. Keberadaan baligho yang banyak ini cocok Digambarkan dalam bait lagu …. Dari kota hingga ke desa…….Dari Laut hingga ke Gunung…………..(menggunakan nada salah satu produk mie instant) Wajah senyum ketenangan, aura kepemimpinan, semangat baru, pancaran ketulusan berusaha divisualisasikan melalui gambar-gambar tersebut,. Tak heran kemudian kemenangan sang calon pun banyak ditentukan oleh kualitas visulisasi calon pemimpin. Tak mau kalah dengan gambar-gambar calon, orang yang memasang baligho memiliki “militansi” yang luar biasa. Meski dengan berbekal kelengkapan seadanya mereka akan memasang baliho/media gambar tersebut ditempat yang telah ditentukan. Tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri apalagi orang lain mereka begitu asyik memsangkan gambar-gambar tersebut. Salah-salah jika seseorang mengganngu konsentrasi dengan menegur atau memberikan bunyi klakson bisa diamuk dan dimaki-maki oleh mereka.


NARSISTIS POLITIK
Fenomena baligho ini bukan hanya menjelang Pilkada, namun sesudah Pilkada dengan terpilihnya kepala daerah juga masi terjadi.Meski mengantongi suara yang paling banyak diantara calon lain kepala daerah terpilih juga belum terpuaskan hasrat mengkampanyekan dirinya. Kegiatan sosialisasi yang dibiayai atas pendanaan Pemerintah Daerah digunakan untuk kepentingan pengenalan dirinya. Banyak kegiatan sosilisasi yang dibiayai APBD cenderung menampilkan sosok kepala daerah. Dibandingkan subtansi yang ingin disampaikan, media sosialisasi tersebut jauh dari subtansi sesungguhnya. Beberapa kabupaten/kota (Ciamis,Kuningan…etc)di Jawa Barat misalnya, menggunakan dana BNK dalam rangka sosilisasi Narkoba. Namun media sosialisasi yang ditampilkan lebih banyak menampilkan sosok tokoh dibandingkan pesan yang ingin disampaikan. Tak heran dari kejauhan sudah terlihat wajah-wajah tokoh namun kita belum bisa melihat pesan apa yang coba ingin disampaikan. Tulisan “Awas Narkoba” cenderung kalah dan terlihat hanya sebagai pelengkap.


Paling sering terlihat, kebetulan saya setiap hari melewati Margonda Raya Depok, persis dipertigaan sebelum Plaza Depok (Jakarta-Depok) terlihat baliho ukuran raksasa yang mencoba menampilkan semangat baru dalam rangka 100 tahun kebangkitan Bangsa. Lagi-lagi yang mendominasi Baligo terebut adalah wajah-wajah yang tidak sesuai dengan tema. Disana ditampilkan wajah Walikota lengkap dengan Muspidanya. Tulisan subtansi kebangkitan bangsa sangat Minim. Bahkan sama sekali tidak memperlihatkan mozaik-mozaik warga dalam mengisi kebangkitan tersebut. Jadi baligho yang ukurannya kira-kira 4x8 hanya berisikan gambar MUSPIDA. Sangat miris memang uang yang seharusnya efektif untuk menumbuhkan rasa juang dalam hidup (gamabaran mozaik prestasi dan kerja keras) hanya diisi wajah-wajah birokrat yang berusaha memperkenalkan diri melalui media tersebut.


Bukan hanya di Depok, Makassar,Medan, Banjarmasin dan seluruh daerah di Indonesia bahkan di Jakarta sekalipun. Kita masih mengingat Pilkada Jakarta, salah seorang calon gubernur menggunakan media sosialisasi/printing untuk mengkampanyekan diri melalui program BNP tentang bahaya Narkoba. Sebenarnya apapun itu, terlepas salah benarnya menurut hUkum, namun secara etis tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin yang mengerti betul tujuan media sosilisasi itu dibuat. Untuk menunbuhkan rasa sayang warga kepada pemimpinnya tidak dengan menekankan pada wajah senyum ramah tetapi melalui sebuah prestasi yang mana warga akan mengingatnya sebagai sebuah usaha kerja keras. Masyarakat kita tidak membutuhkan senyuman dari seorang pemimpin terlebih lagi jika itu hanya sebuah gambar. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang narsistis. Masyarakat hanya menginginkan bukti bahwa hari ini lebih baik dari kemarin dan membuka jalan hari esok lebih baik dari hari ini. Alangkah eloknya jika kita menampilkan wajah-wajah senyuman dari masyarakat kita, ketimbang menampilkan wajah pemimpin tersenyum di Baligo tetapi Masyarakat kita dibawah mengkerut dahi, menjerit bahkan menangis.
Lukman Budiman

No comments: