Simbol Agama Jadi Alat Intimidasi Pemilihan Kepala DaerahRabu, 07 Juni 2006 15:13 WIB
TEMPO Interaktif
Jakarta:Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) melihat para calon yang ikut dalam pemilihan kepala daerah sering menggunakan simbol agama untuk mengintimidasi masyarakat calon pemilih. "Bahkan di Tasikmalaya (Jawa Barat), dan Muna (Sulawesi Tenggara) ada pemuka agama yang membuat fatwa masuk neraka jika masyarakat memilih pasangan calon tertentu," kata Manajer Pemantauan JPPR, Lukman Budiman Tadjo dalam jumpa pers di Hotel Sari Pan Pasifik, Rabu siang.
Dari pemantauan JPPR, dia melanjutkan, simbol agama ini dipakai sebagai bentuk lain dari politik uang. Ia mencontohkan sumbangan kepada musholla, membagikan jilbab dan kitab yasin. “Ini terjadi di Asahan, Kendal, dan Jember," ujarnya. Bahkan di beberapa tempat, calon-calon ketahuan membagikan uang kontan Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu kepada para pemilih. Kasus ini terjadi di Sumenep, Muna, Asahan, Sidoarjo, dan Sukabumi. Adung A. Rochman, Koordinator Nasional JPPR menambahkan, simbol agama juga menjadi alat penekan terhadap kepala daerah yang sudah terpilih dan menjabat, seperti yang terjadi di Banyuwangi. "Jika masa yang memakai simbol agama berhasil menggulingkan kepala daerah, maka ini akan dipakai di daerah lain," ujarnya.
Bentuk-bentuk intimidasi lainnya yang sering terjadi dalam proses pemilihan kepala daerah langsung, Lukman menambahkan, berupa penggunaan kekuasaan dan preman. Dia mencontohkan di Kota Bandar Lampung terjadi intimidasi kepada kepala desa untuk mendukung kandidat tertentu. Raden Rachmadi


No comments:
Post a Comment