Sunday, 28 October 2007

Kami........, Putra-Purti Indonesia.


28 Oktober adalah hari dimana kaum muda akan menjadikan hari autokritik sejauh mana eksistensi pemuda mampu memberikan warna dalam mengisi pembagunan di negeri ini.
Tiga hari menjelang tanggal tersebut, telah banyak di media televisi, koran dan radio yang mengulas apas dan bagaimana makna sumpah pemuda dalam konteks sekarang. Muncul berbagai komentar dan opini dari berbagai nama yang mengatasnamakan pemuda masa kini seolah-olah meniadakan eksistensi pemuda di kalangan bawah atau pemuda yang termarjinalkan (red: bukan elit pemuda)


Gaung 28 Okt pada masa ini serasa lebih nyaring, maklumlah situasi politik Indonesia cenderung "ajimumpung" maksud saya karena saat-saat ini opini kepemimpinan mencuat sebagai tema sentral politik yang melatasi semuanya. Coba bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saya membayangkan pada tahun depan 2008 aroma 28 Okt akan semakin terasa karena di depan mata Pemilu 2009.
Komentar "JK" mengenai tuntutan Pemuda yang dipublikasikan pada hari Sumpah Pemuda 2007 yang isinya menurut JK lebih banyak bersifat meminta. Saya pikir penilaian tersebut bukan asal bicara saja. tetapi melalui fakta-fakta yang panjang bukan saja berada dalam pikiran yusuf kalla "JK" tetapi mungkin termasuk anda yang sedang membaca blog ini, tentu pendapat saya juga demikian.


Dalam Konteks peryataan tersebut memang terkesan Pemuda lebih banyak meminta daripada merebut. Dalam sejarahnya pemuda tidak akan pernah diberikan terkecuali harus merebut. Merebut dalam pengertian melakukan perjuangan, penuh kompetensi, terpercaya dan berani. Jika hanya berharap tapi tidak pernah melakukan pembuktian atas kemampuan tersebut, sampai kiamat pun dan sampai pemuda itu beruban menjadi tua tidak akan merubah apa-apa. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 mempunayi makna yang sangat Visioner coba anda simak dalam-dalam, kurang lebih:
Kami Poetra-Poetri Indonesia Mengaku Bertanah Air yang Satu, Tanah Air Indonesia
Kami Poetra-Poetri Indonesia Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia
Kami Putra-Poetri Indonesia Mengaku Bertanah Air yang Satu, Tanah Air Indonesia
Kami Putra-Poetri Indonesia Menjunjung Tionggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Yang pada Intinya berjanji untuk Satoe Nusa, Satoe Bangsa dan Satoe Bahasa Bahasa Indonesia.
Sumpah ini adalah janji yang begitu tulus dan memiliki pandangan jauh kedepan mengenai konsep Ke-Indonesia-an.


Tahun 1945 Ketika Bung karno dan Bung Hatta ragu-ragu memproklamasikan Indonesia, Kembali pemuda menunjukka keberanian dan visi Ke-Indonesiaan-nya paling depan dengfan peristiwa "Rengasdengklok" Mereka yang melakukan penculikan atas simbol kebangsaan ini hanya menginginkan Indonesia Merdeka dengan sejuta pengharapan bahwa bangsa ini akan lebih maju dan mandiri jika bangsa ini Telah Merdeka secara sejatinya.


Pertanyaannya apa yang dilakukan oleh Pemuda sekarang, terlebih yang mengaku sebagai elit pemuda? Bandingkan setiap pernyataan pemuda yang terlontar. kami meminta.....................
Kami Meminta.....................dst


Klaim "kami" masih perlu diperdebatkan, karena pernyataan itu atas dasar apa? Toh pada akhirnya pemuda yang sekarang mewakili klaim pemuda masi jauh terhadap visi Ke-Indonesia-an (Menciptakan masyarakat adil dan Makmur.... baca Pembukaan UUD 45). Toh tuntutan yang sifatnya meminta adalah wujud perjuangan yang kerdil, jangka pendek, dan untuk kepentingan kelompok malah lebih gambalang lagi saya bilang untuk kepentingan mereka sendiri. Coba lihat kebelakang siapa-siapa saja yang menjadi elit politik nasional adalah juga elit-elit politik muda dimasa lalu.


Pergeseran zaman semestinya dilihat sebagai sebuah tantangan bangi pemuda. Pemuda yang berprestasi di bidang olah raga, sains dan teknologi, pendidikan perlu mendapatkan tempat yang sangat terhormat. Mereka berkeringat hanya untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya, mereka harus berpusing dan berpikir keras hanya untuk agar nama Indonesia dikenal, mereka tampa kenal lelah dan pamrih ingin melihat adik-adik, anak cucu mereka cerdas dalam rangka melanjutkan amanat dari sumpah pemuda.
Jadi klaim atas pemuda pada masa ini perlu direkonstruksi. Klaim atas elit pemuda tidak hanya pada sektor politik yang kemudian prilaku dan tindak-tanduk pemuda Indonesia sangat diwarnai dari bidang tersebut. Memang dalam kamus politik meminta.....masih mempunyai makna yang luas, tetapi bagi pemuda yang tidak menjadikan politik sebagai dunia mereka makna tersebut sangat lugas.
"Singsingkan Lengan maju, mari bekerja Keras bukan kepercayaan terberi yang dibutuhkan pemuda tetapi yang diinginkan adalah pembuktian kepercayaan (merebut kepeercayaan) bahwa mereka mampu melalui kerja keras, kerja cerdas"

Slamatlah Rakyatnya
Slamatlah Putranya
Untuk Indonesia Raya (stansa 2)


Lukman Budiman Tadjo/LB.Tadjo

No comments: